Memaknai Belajar

Beberapa waktu yang lalu aku sempat membaca sebuah buku berjudul Cara Belajar Para Ilmuwan Dunia yang membahas bagaimana proses belajar yang ditempuh oleh para ilmuwan terseut hingga sejarah mencatat mereka dengan karya-karya monumental yang diakui dunia. Secara singkat proses yang mereka tempuh membenarkan perkataan Aristoteles: kita adalah apa yang kita lakukan secara tekun berulang-ulang. Ada beberapa hal yang aku catat setelah mengkhatamkan buku tersebut.

Pertama, kecerdasan merupakan anugerah yang tidak setiap orang mendapatkannya. Namun kecerdasan bukanlah suatu faktor utama. Aspek dinamis dari kecerdasan mengharuskan bahwa kecerdasan harus dikembangkan dan dilatih terus-menerus. Mengutip Rhenald Kasali dalam bukunya Myelin, keberhasilan ditentukan oleh dua hal utama: brain memory (kecerdasan) dan muscle memory (latihan berulang). Dari kisah yang diulas dalam buku itu, tampak sekali bahwa para ilmuwan itu selain berbekal kecerdasan yang di atas rata-rata juga memiliki ketekunan belajar dan fokus di atas rata-rata. Dalam literature pendidikan, apa yang para ilmuwan itu lakukan disebut sebagai deliberative practice; latihan berulang-ulang dengan fokus pada minat dan kompetensi.

Kedua, semangat otodidak yang luar biasa. Otodidak disini tidak berarti menihilkan peran pendidikan formal, namun lebih dari itu, para ilmuwan tersebut memiliki curiosity yang luar biasa dan tidak cepat puas atas capaian yang telah diperoleh. Semangat mencari dan terus menggali diwujudkan dalam upayanya secara mandiri dalam mempelajari suatu ilmu.

Ketiga, para ilmuwan itu adalah orang yang konsisten dan tidak mudah goyah untuk menapaki jalan sunyi. Mafhum diketahui bahwa jalan ilmu adalah jalan yang jauh dari hingar-bingar. Jalan yang terasing dari sorot lampu panggung. Ketika teman sebayanya asyik bermain, mereka asyik menekuni literatur dan berjibaku dengan aneka eksperimen. Mereka bisa dikatakan sebagai orang ‘aneh’ dan unik.

Keempat, pada akhirnya mereka adalah orang yang berani menulis dan mempublikasikan karya dan penemuan mereka sehingga dunia bisa mengetahuinya. Dengan mempublikasikan karya, mereka telah mewariskan jariyah yang besar bagi umat manusia. Dan secara tidak langsung, mereka telah menjadi ‘guru’ yang mengajar suatu ilmu bagi generasi mendatang. Sehingga dialektika keilmuan akan terus terbentuk dan terjalin secara simultan. Publish or perish.

Empat hal di atas bukanlah jumlah maksimal pelajaran yang dapat diperoleh dari buku itu, karena masih banyak hal lain yang mungkin bisa digali oleh orang lain. Terlepas dari itu semua, hal yang paling pokok buatku adalah: belajar adalah ruh dari kehidupan. Dalam setiap fase dan perkembangan hidup kita, belajar adalah kunci agar berhasil melalui fase-fase itu dengan baik. Selamat belajar dan jangan pernah berhenti belajar!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s