Manusia Ide

“Sebagaimana manusia…, gagasan dan teori itu bergerak, dari pribadi ke pribadi, dari situasi ke situasi, dari periode ke periode.” [Edward W. Said]

Komunitas manusia adalah komunitas yang hidup, ia tidaklah berupa materi mati. Ia akan bergerak, tumbuh dalam rentangan usianya masing-masing. Ia akan terus hadir dan memperbarui diri. Memperbarui diri baik secara kuantitas dan juga kualitas, dengan jalan mereproduksi keturunan dan gagasan. Keturunan yang menentukan kebanggaan nasab. Gagasan yang akan menunjang seberapa jauh ia sukses dalam laga kehidupan.

Eloknya jika keberlangsungan keturunan itu bersanding dengan keberlangsungan gagasan. Setiap yang lahir dan hadir di dunia telah pula mewarisi gagasan yang ada. Hingga ia akan lahir tidak dalam ruang kosong yang masih perlu diisi. Hingga ia tidak hadir dalam ruang keabu-abuan. Tapi, begitu tidak mudahnya untuk menyandingkan keberlangsungan keturunan dan gagasan.

Patah-tumbuh, hilang-berganti. Sebelum ada yang patah sudah ada bibit baru. Sebelum yang lama hilang, yang baru sudah siap mengganti. Proses ini akan berjalan baik jika setiap gerak dan perubahan manusia harus dibarengi dengan gerak dan perubahan gagasan. Manusia tidak hanya berada pada satu kondisi yang tetap, tidak juga berada pada kondisi yang menjadi objek perubahan. Karena itu, gagasan tidak boleh tetap atau statis, gagasan harus diperluas spektrumnya dari objek menjadi subjek.

Akhirnya, era yang lalu sudahlah berlalu. Era saat ini masih menjelang dan akan berlalu, dan era yang akan datang akan menjelang. Era saat ini adalah kelanjutan dari gagasan era yang lalu. Era di masa datang adalah gagasan era saat ini. Setiap era itu menempati ruang kemanusiaan yang berbeda, akibatnya gagasan yang muncul akan berbeda pula. Gagasan yang lalu tidak persis sama dengan gagasan-gagasan sesudahnya. Namun, mengetahui mata rantai gagasan yang pernah ada itu sangat penting. Karena kebolehjadian gagasan itu tidaklah selalu inheren dengan masanya. Ada yang tidak up to date, ada juga yang terlampau futuristik.

Ya, manusia dan gagasan itu bersama-sama eksistensinya. Setiap kelahiran manusia melahirkan gagasan baru. Sehingga gagasan akan semakin banyak. Baik dan buruk, layak dan tidak layak. Di tengah banyaknya gagasan itu, tuntutan untuk mengajarkan gagasan-gagasan bagiĀ  setiap manusia yang hadir, bagi ketururnan selanjutnya adalah penting untuk dipersiapkan. Sehingga gagasan-gagasan kita berlanjut dan gagasan-gagasan itu menjadi subjek bagi perubahan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s