Pendidikan (Islam) merespon Krisis Identitas dan Globalisasi

Pendidikan yang Mencerahkan

“Kemerdekaan Indonesia”, menurut Ben Anderson “merupakan hasil perjuangan dari pergerakan Kaum Muda terpelajar.” Kaum Muda inilah yang menjadi aktor penggerak sekaligus pelaku utama dalam usaha untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Faktor pendidikan yang memberi saham terbesar bagi aktivisme Kaum Muda ini, berkat pendidikan yang diperolehnya –terutama yang bersentuhan dengan pemikiran dan pendidikan Barat- mempunyai inisiatif dan cakrawala untuk membawa bangsanya menembus tembok kolonialisme. Kaum Muda yang demikian inilah yang diberi predikat oleh Sejarawan sebagai Kaum Muda yang “terdidik dan tercerahkan.”

Mereka terdidik karena mereka mendapatkan dan mengalami proses pendidikan yang kemudian menjadi kelompok intelektual (intelegensia) baru dalam strata sosial masyarakat Indonesia yang secara umum waktu itu masih berkubang dengan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Dan sebagai kaum yang tercerahkan, mereka memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan dan berbuat untuk kemanfaatan dan kemajuan bangsanya. Mereka tidak terjebak dalam elitisme intelektual yang bagai menara gading, namun mereka bergerak bersama rakyat, membersamai denyut nadi masyarakat. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai intelektual organis. Sekelompok intelektual yang tumbuh dan berjuang dalam masyarakatnya. Kecerdasan intelektual pada awalnya, dan kecerdasan sosial pada tahap selanjutnya. Mereka benar-benar menjadi contoh ideal kaum intelektual yang menurut Bung Hatta memiliki fungsi untuk “membimbing dan memberi arah bagi kemajuan masyarakat.”

Tindakan dan perbuatan mereka dilandasi oleh semangat altruistik, bahwa mereka berbuat tidak untuk membahagiakan dan mensejahterakan diri sendiri. Mereka berbuat untuk kepentingan yang lebih luas; untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya. Mereka tidak mudah tergiur oleh iming-iming jabatan dan harta kekayaan. Mereka disatukan oleh cita-cita bagi terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Proses pendidikan yang diperoleh menyadarkan mereka bahwa pangkal dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan bangsanya adalah karena penjajahan. Oleh karenanya, usaha untuk membawa bangsanya maju mula-mula adalah dengan menjebol tembok penjajahan. Kemerdekaan Indonesia adalah harga mati yang harus terwujud.

Pendidikan sebagai faktor internal dan kondisi masyarakat yang jauh dari ideal sebagai faktor eksternal telah menghasilkan sintesa pemikiran bagi tumbuh suburnya kesadaran nasional untuk kemerdekaan Indonesia. Pendidikan ini telah mampu menumbuhkan karakter dan kepribadian dalam diri Kaum Muda ini yang mampu mengedepankan nilai luhur dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Oleh sebab proses pendidikan ini pulalah terbangun kesadaran bahwa setiap bangsa mempunyai kedudukan yang setara dan tidak menghendaki adanya penindasan oleh satu bangsa terhadap bangsa yang lain. Setiap bangsa memiliki hak yang sama untuk merdeka dan mengatur rumah tangganya sendiri. Situasi batin yang demikian ini kemudian menimbulkan kepercayaan diri untuk menjadi bangsa yang merdeka dan memiliki kedudukan yang setara. Emosi batiniah ini juga menyadarkan bahwa perasaan rendah diri (inferiority complex) telah membelenggu harkat dan martabat bangsa. Perasaan rendah diri yang ditanamkan penjajah terhadap masyarakat telah menyebabkan bangsa Indonesia secara terus-menerus merasa sebagai bangsa pengekor yang tidak akan mampu berdiri sendiri. Hal ini persis seperti yang diungkapkan oleh Sosiolog sekkaligus Sejarawan Muslim ternama, Ibn Khaldun, ”bangsa yang terjajah akan cenderung mengikuti bangsa yang terjajah dalam segala hal.” Situasi ini yang kemudian mampu diterobos oleh Kaum Muda.

Tantangan Modernitas

Kini, kemerdekaan Indonesia telah kita rasakan lebih dari 64 tahun. Namun apakah dalam rentang waktu ini, bangsa Indonesia telah benar-benar merasakan buah dan hasil dari kemerdekaan? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah mula-mula kita renungi pendapat pemikir dari Aljazair, Malik bin Nabi. Ia mengatakan bahwa Negara-negara berkembang (terutama yang mayoritas Islam) setelah mampu melepaskan diri dari penjajahan fisik (klonial), cenderung untuk mempersiapkan dirinya sendiri untuk kembali dijajah. Penjajahan tidak lagi dalam bentuk angkat senjata, tetapi dalam bentuk lain. Penjajahan perilaku, pemikiran, gaya hidup, sikap, dan tingkah laku dalam hidup. Jadi bukan lagi penjajahan dalam bentuk kekuatan militeristik dan senjata (hard power), nmaun telah berganti rupa menjadi penjajahan mental dan sikap (soft power).

Apa sebab? Kita tengok lagi pasal yang diungkapkan oleh Ibn Khaldun sebelumnya. Jawabannya adalah bahwa banyak negara berkembang yang mengalami krisis karakter. Krisis identitas. Krisis identitas ini menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan canggung dalam memandang hidup dan realitas yang dihadapi. Negara berkembang masih mengidap penyakit rendah diri (inferiority complex) yang menganggap bahwa yang dari luar selalu baik dan bermutu. Terlebih lagi dalam fenomena globalisasi sekarang yang mana telah terjadi seperti yang dikatakan Alvin Toffler sebagai third wave revolution (revolusi gelombang ketiga) dalam dunia informasi dan teknologi. Sekat-sekat yang membatasi antar negara telah terkikis dan tereliminasi oleh fenomena globalisasi ini. Globalisasi telah mereduksi nasionalisme menjadi internasionalisme oleh negara-negara maju. Proses ini salah satunya menyebabkan adanya intrusi budaya asing ke dalam budaya lokal. Budaya lokal berganti menjadi budaya kosmopolitan.

Dalam konteks ini menarik mencermati pendapat dari Arnold Joseph Toynbee. Pertama, bahwa ketika budaya luar masuk, ia tidak masuk secara independent, ia akan membawa masuk budaya lain. Teknologi asing yang diadopsi misalnya akan membawa budaya dari orang-orang yang bekerja pada industri teknologi itu. Kedua, aspek atau unsur budaya yang di tanah asalnya tidak berbahaya, bisa menjadi berbahaya bagi masyarakat yang didatangi. Misalnya Nasionalisme yang berkembang di Eropa awal abad 19 tidak cocok diterapkan di dunia Islam Timur Tengah, yang justru Nasionalisme itu menyebabkan perpecahan. Hal-hal inilah yang harus jadi kesadaran kita untuk menyikapa secara arif proses globalisasi.

Jadi terkait globalisasi ini kita hendaknya bersikap selektif dan cerdas. Kita harus mampu mencerna dengan baik setiap aspek yang dibawa oleh globalisasi. Aspek yang posistif dari globalisasi berupa perkembangan ilmu dan teknologi yang kompetitif perlu untuk kita respond dan kita sambut dengan baik. Sedangkan aspek yang negative dan merusak tatanan budaya dan karakter kita tidak perlu diambil, budaya destruktif globalisasi hartus kita analisis dengan baik supaya tidak menyebabkan gegar budaya (shock culture) bagi masyarakat.

Peran Pendidikan Islam

Ada dua tantang atau permasalahan kekinian yang perlu menjadi perhatian secara serius. Yaitu masalah terkait dengan krisis identitas dan krisis globalisasi. Krisis identitas ini biasanya dipicu oleh kemampuan setiap individu dalam hal bagaimana ia memandang dirinya sendiri, serta bagaimana ia berperan dalam lingkungan sosialnya yang akhirnya bermuara pada bagaimana lingkungan akan menilai dirinya itu. Sedangkan krisis globalisasi tercermin dalam ketidaksiapan dan ketidaksigapan dalam merespon globalisasi, yang mengakibatkan lunturnya nilai budaya lokal akibat kuatnya pengaruh budaya asing.

Dua hal di atas inilah yang hendaknya harus direspon oleh setiap orang yang bergerak dalam bidang pendidikan, terlebih lagi pendidikan Islam yang mengarahkan secara khusus pada pembinaan karakter (akhlaq). Pendidikan (Islam) harus mampu mewujudkan individu peserta didik yang memiliki karakter dan kepribadian serta tanggap terhadap globalisasi (khususnya pengembangan ilmu dan teknologi). Pendidikan (Islam) harus mampu menghasilkan manusia-manusia Indonesia baru yang memilki landasan iman dan taqwa serta mampu menyerap perkembangan ilmu dan teknologi yang dibawa oleh proses globalisasi.

Proses pendidikan (Islam) harus mampu di satu sisi mendidik mengembangkan potensi dan kekhasan pada masing-masing individu. Pada sisi lain, harus mampu menjadikan peserta didik menjadi manusia yang “tercerahkan”, dalam artian bahwa peserta didik itu tidak terpisahkan dan tercerabut dari kehidupan masyarakatnya. Dengan menjadi pribadi yang terdidik, peserta didik itu akan menjadi pribadi yang cerdas, unggul, dan kompetitif. Sedangkan sebagai pribadi yang “tercerahkan”, ia akan menjadi inspirator dan pionir bagi perkembangan masyarakatnya.

Lembaga pendidikan juga mempunyai tugas untuk memfasilitasi bagi tumbuhnya manusia yang memilki basis identitas yang jelas. Baik basis dari identitas kultural (sosial) maupun basis idntitas agama. Lembaga pendidikan ini harus mampu untuk membuat aturan dan melakukan “intervensi” yang sistematis dan terorganisir dengan rapi agar mampu memfasilitasi perkembangan dan penumbuhan identitas individu tersebut. Dalam proses ini penting untuk diperhatikan terkait dengan karakteristik dan potensi yang khas dari setiap individu. Aspek penumbuhan bagi potensi ini sangat penting untuk diperhatikan.

Proses pendidikan (Islam) juga harus mampu merespon perkembangan globalisasi dengan arif dan bijaksana. Artinya, bahwa pendidikan (Islam) mampu untuk memberi pedoman aqidah, akhlaq dan moral sehingga peserta didik memilki landasan yang kokoh dalam berinteraksi dengan semua orang dan semua kondisi dalam kehidupannya. Dengan landasan ini, peserta didik dapat memilah dan memilih mana aspek yang buruk dan mana aspek yang baik dari globalisasi, sehingga peserta didik itu tidak menjadi komoditi dari globalisasi, tetapi menjadi pemain yang cerdas ketika berhadapan dengan globalisasi.

Pendidikan (Islam) juga harus memberi landasan yang fundamental yang bisa merangsang peserta didik untuk terus memacu dan mengembangkan ilmu dan teknologi –sebagai elemen pokok dan penting dari dunia modern- sehingga peserta didik itu tidak mengalami ketertinggalan dan keterbelakangan dalam arena percaturan dunia global yang memilki ciri khas dalam inovasi ilmu dan teknologi. Secara khusus di sini dimaksudkan bahwa pendidikan khususnya pendidikan islam agar tidak menutup diri alias responsif dalam memajukan ilmu dan teknologi. Jadi tidak ada pemisahan antara ilmu (agama) dengan sains (ilmu umum).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s