Sm@rt II

Akan dimulai dari mana tulisan testimoni ini sungguh membingungkan. Tajuk yang hendak diangkat juga membuat untuk berpikir jauh. Tidak tepat tulisan ini sebagai sebuah kenangan, tidak juga sebagai sebuah pengulangan dari masa-masa lalu. Karena Smart bukanlah kenangan, Smart bukanlah masa lalu. Karena Smart adalah perjuangan, Smart adalah masa depan yang (insya Allah) gemilang. Dan keberlanjutan estafeta perjuangan yang sambung-menyambung. Karena Smart tidaklah selalu melihat ke belakang dan membandingkan, namun harus melihat ke depan, menemui masa-masa baru dan menjawab secara progresif perkembangan dengan semangat dan mentalitas baru.

Dalam melihat ke depan dengan semangat dan mentalitas baru, adu dua sudut pandang yang bisa dimaknai dan diterapkan jika menginginkan suatu kejayaan. Herodin dan zeolin. Herodin adalah mengambil pelajaran dari orang atau organisasi lain yang telah mengalami kemajuan, dari hal ini kita bisa mengambil pelajaran yang baik yang bisa diadopsi (ditiru) dan diadapsi (disesuaikan). Zeolin itu adalah melihat dengan arif terhadap diri sendiri untuk menggali potensi yang dimiliki diri, lalu kemudian dengan arif pula berusaha seoptimal mungkin untuk mengembangkan potensi itu.

Dua hal ini yang harus senantiasa jadi pedoman dan prinsip hidup Smart sebagai organisasi. Smart memiliki potensi yang perlu terus untuk digali, Smart memiliki ciri dan karakter yang khas yang tentunya berbeda dengan yang lain. Namun memandang terhadap diri tidak selayaknya menimbulkan fanatisme dan menganggap sebagai ynag paling hebat dan memiliki keunggulan. Tidak pula sebaliknya, memandang diri malah menimbulkan perasaan minder dan rendah diri. Disisi yang lain kita perlu membuka diri, melebarkan cakrawala kita dengan belajar dari organisasi atau instansi lain (pemerintah daerah, anggota legislatif, LSM, wajihah lain, orang yang berpengaruh, dll) yang telah mampu untuk maju dan berkembang dengan baik. Dengan membuka cakrawala kita akan mampu melihat kondisi yang nyata yang ada di tengah-tengah kita, kita mampu melihat dan menganalisa potensi baik dan buruk yang bisa kita manfaatkan. Smart telah dan akan merintis prinsip ini.

Ada satu ungkapan yang terkenal sekali, bahwa hidup adalah perjuangan. Dan hidup itu adalah pilihan. Karenanya perjuangan itu adalah pilihan. Disini kita tidak membahas pilihan untuk berjuang atau tidak berjuang. Di Smart kita sudah meyakinkan diri untuk menjadi bagian dari jalan juang. Jadi pilihan itu adalah Smart, Smart sebagai lahan juang, Smart sebagai pilihan untuk berjuang bersama, berjuang di Smart.

Ada banyak alasan bagi masing-masing kita ketika pada awalnya menjadi bagian dari Smart. Ada yang karena dijebak, ada yang karena ‘dipaksa’, ada yang karena melihat hal atau kegiatan Smart yang menarik, ada yang karena Smart tidak terlalu kaku, dan lain sebagainya. Apapun itu, ketika sudah masuk dan menjadi bagian dalam Smart, nilai-nilai ataupun gambaran dan pikiran awal yang terbentuk ketika baru pertama kali masuk Smart akan berbenturan dan berinteraksi dengan kenyataan ketika menjadi bagian dalam Smart. Berbeda ketika melihat dari luar dan dari dalam. Nah, disinilah pentingnya menjaga motivasi dan stamina. Karena itulah penting untuk membuat diversifikasi niat. Penting untuk membuat hierarki niat. Tentunya niat keikhlasan untuk Allah itu nomor satu, namun perlu niat-niat lain yang bisa menjadi motivasi. Tentunya niat dalam kerangka yang haq bukan yang bathil. Misalnya niat untuk menambah ilmu, menambah teman, aktualisasi diri, mengebangkan potensi,dll.

Dalam setiap organisasi, akan dialami dua macam interaksi, yaitu interaksi antar individu dan interaksi individu dengan sistem. Dan pasti juga dalam interaksi dengan dua hal ini akan menemui hal-hal yang tidak ideal. Ada banyak kekurangan dan nilai negative yang ditemui selam interaksi tersebut. Seringkali muncul ketidakcocokan antar individu, ada juga muncul sikap tidak percaya satu sama lain, muncul ketegangan, hadirnya ketidakpuasan atas kenerja partner, timbul kubu-kubuan, dan macam-macam. Hal lain seringkali muncul sikap tidak puas dengan sistem dan pilihan kebijakan yang diambil, timbul kekecewaan karena merasa suaranya tidak diakomodasi, merasa tersinggung karena terlalu banyak ‘disetir’ oleh mas’ul, kecewa dengan system dan kondisi Smart yang tidak nyaman seperti dulu, dan macam-macam.

Sekali lagi, anomali yang tersebut diatas adalah biasa dan wajar. Sebetulnya disitulah terletak pelajaran dan tantangan yang luar biasa. Pelajaran untuk memahami orang lain sebelum minta difahami, pelajaran untuk mengerti orang lain sebelum dimengerti, pelajaran untuk mengkonfirmasi atas segala hal yang muncul, pelajaran untuk benyak memberi daripada banyak menuntut, pelajaran untuk dewasa dan bijak dalam menghadapi karakter dan sifat yang berbeda yang ada pada orang lain. Pada anomali itu terdapat tantangan untuk mampu membuat terobosan, mampu membuat jalan keluar, mampu berpikir kreatif, mampu untuk menjadi pemimpin yang bijak, mampu untuk memikirkan dan merencanakan hal-hal yang strategis, melihat suatu permasalahan dalam kerangka umum atau makro.

Hujan pasti tidak akan selamanya mengguyur permukaan bumi, suatu waktu matahari akan dengan cerah menyinari bumi. Malam juga tidak akan selamanya gelap, karena ada waktunya bulan purnama akan dengan elok menampakkan wujud dan sinarnya ke depan mata kita. Tidak selamanya semua adalah cerita sendu, cerita pilu, cerita menggerutu. Karena kita pernah memiliki cerita seru, cerita haru, cerita yang membanggakan. Dan mulailah berpikir proprsional, ketika sedang sendu ingatlah hal yang seru, ketika sedang pilu ingatlah hal yang haru, ketika menggerutu ingatlah kontribusi yang telah kita kerjakan. Akhirnya kita akan dengan lapang dada menerima bahwa perjuangan itu adalah pilihan. Berjuang bersama Smart adalah pilihan, lalu dengan sadar pula untuk konsekuen dengan pilihan perjuangan itu.

Terakhir, sebagai penutup saya ingin kutipkan pesan dari Mohammad Natsir. “Janganlah merasa kecil kalau masuk organisasi yang hanya organisasi dakwah saja. Sebab, apakah namanya pembinaan pribadi, pembinaan keluarga, atau pembangunan masyarakat, pembangunan negara, pembangunan antar-negara, pembangunan antar-agama, semuanya sudah termasuk dalam ruang lingkup dakwah Rasulullah saw. Oleh karena itu, melakukan dakwah artinya, menuruti jejak Rasulullah saw seluruhnya.”

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s