Sang Murabbi

Tidak ada sedikitpun keraguan akan cita-cita yang selalu menggelora dalam dadanya. Cita-cita kebangkitan Islam selalu menjadi pelita yang menerangi dan menunjuki jalannya. Cita-cita itu memunculkan dua kondisi kritis dalam jiwanya. Pertama adalah optimisme yang menemukan wujudnya dalam bentuk keyakinan utuh atas landas keimanan yang mantap bagi supremasi Islam. Kedua adalah pesimisme oleh kenyataan empiris yang jauh dari tatanan cita-cita yang diidealkan.

Interaksi dua kondisi dan perasaan itulah yang meletupkan semangat dan potensi kreativitas. Jarak lebar yang menganga antara noumena dengan phenomena memantik daya kritisnya, menyelami samudera keilmuan semakin mendalam dan menghadirkan ketajaman basirohnya. “Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya bashiroh”, ujarnya “seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan. Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang mampu melihat walau hanya dengan satu mat, niscaya masyarakatnya hanya mau mengikuti yang satu ini dn meninggalkan yang 100.000.” Kealpaan bashiroh ini yang menjelaskan fenomena kecendekiawanan aahir-akhir ini.

Sosoknya memang belum tergantikan dalam komunitasnya. Ia selalu hidup dalam hati, sanubari, dan pikiran murid, kolega dan sejawatnya. Ia mempersonakan sosok yang utuh. Keutuhan sosoknya terekam dalam kiprahnya yang memantulkan dua pesona sekaligus; pesona ilmu dan amal. Amalnya bersumber dari manhaj nabawi mampu menjadi inspirasi dan teladan. Kecemerlangan ilmunya selalu di bawah naungan cahaya Qurani, yang baginya hadir tidak semata-mata teks yang diam namun teks yang bergerak. Ia sosok yang bersama-sama ikut berjuang ke medan laga sekaligus menekuni jalan sunyi untuk tafaqquh fi addiin. Manusia amaliah dan ilmiah kiranya tidak berlebihan untuk disematkan.

Keresahan atas kondisi umat dan bangsanya tidak menutupi kegalauan serta keresahannya atas kader-kader dakwah penerusnya kelak. Intensitas perhatiannya terhadap perkembangan kader begitu besar, yang tidak lain karena merekalah harapan dan pelita bagi umat dan bangsanya. Hal ini nampak setidaknya dari harapannya atas sosok kader-kader yang cakap dalam merespon gejolak dan tipuan pemikiran serta di saat bersamaan berdaya dan tampil dalam mengarahkan gerak umat dan bangsanya. Harapannya yang lain adalah munculnya baitud da’wah atau keluarga-keluarga dakwah yang akan meretaskan tunas yang unggul.

Baginya, tarbiyah islamiyah adalah kerangka hidupnya. Tarbiyah islamiyah menjadi bingkai besar rekam jejaknya. Tarbiyah islamiyah baginya adalah suatu bentuk pembinaan dan penggemblengan yang berlangsung secara terus menerus sepanjang hayat. Tarbiyah adalah gerbang bagi optimasi potensi yang ada dalam diri manusia. Tarbiyah adalah upaya untuk menyemaikan dan menjaga mata rantai kebaikan. Dan tarbiyah inilah yang menjadikan namanya tetap hidup; menjadi cermin yang jernih bagi siapa saja yang berada satu frekuensi dengan gagasan, cita-cita dan prinsip hidupnya.

Ia yang disketsakan dalam film Sang Murobbi. Semoga Allah swt merahmatimu, sebagaimana namamu. Rahmat Abdullah.

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s