Sahabat Dakwah

Telepon genggam punyaku bergetar sebanyak lima kali. Tandanya ada pesan masuk. Segera kemudian kubuka pesan itu, satu nomor yang tidak tercatat dalam memori telepon genggamku muncul di layar. Potongan pesan itu adalah “Ya Alloh lindungi sahabat dakwahku…”. Begitu kira-kira isi pesan dari seseorang yang aku tidak tahu namanya.

“Apa maksud sahabat dakwah itu?”, gumamku.

Terma sahabat dakwah itu tidak bisa dipisahkan dari sebuah wujud sosial. Sahabat dakwah itu termaknai dalam bangunan komunitas dakwah. Antara isi dan wahana. Komunitas itu hadir dalam kesadaran baru masyarakat. Yang tadinya hanya dalam wujud yang terbatas kini menjadi kenyataan historis yang mulai diperbincangkan dalam mimbar akademis ataupun dalam obrolan angkring.

Kuntum bunga itu terlahir dalam wahana yang tepat. Buaian angan itu mengalami perubahan. Dari kecil jadi besar. Dari kalangan terbatas menjadi kalangan luas. Persemaian itu lahir dari basis geopolitik yang muncul dari lingkungan masjid. Lingkungan masjid itu menjadi basis bagi komunitas ini awalnya. Dan selamanya akan tetap menjadi basis. Satu-satunya basis yang kokoh.

Sahabat dakwah itu dirajut dalam pilar-pilar masjid ini.

Dalam ruang-ruang, sudut-sudut masjid ini interaksi terjalin dalam rajutan yang tidak lagi imajiner. Merasuk bersama aliran kapiler. Menyebar dan memuara dalam seluruh poros terkecil kesadaran. Bersama aliran hemoglobin. Tidak salah kalau kemudian rajutan ini menjadi ikatan yang mendarah. Yang mendaging. Bukan hipokrisi.

Tidak berhenti di situ. Aktifasi semangat itu menjadi kekuatan yang senantiasa berkobar. Ada semangat melakukan pembinaan dan proses perubahan kualitas diri. Diri sendiri adalah objek utama dari pola pikir mendasar. Kemudian adalah ada pembentukan konsepsi dan penciptaan suatu gagasan objektifikasi kondisi agar ada perubahan secara kuantitatif. Egoisme sempit terkikis oleh semangat untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Keinginan yang menginsafi mereka adalah untuk menjadikan orang lain menjadi baik, bahkan lebih baik dari mereka.

Akhir dari semua cita mereka dari pilar masjid itu adalah adanya perubahan yang besar. Mereka tidak sedang berkhayal, tidak sedang bergurau ketika berkehendak merangkai peradaban yang baru. Mereka mencitakan konsepsi peradaban yang bernilai manusiawi. Yang menjadikan manusia dalam peran yang ideal secara alami.

Mungkinkah itu yang dimaksud sahabat dakwah? Sahabat dalam cita-cita menegakkan peradaban baru. Sahabat dalam perencanaan masa depan yang lebih baik. Ikatan sahabat yang tidak hanya berpikir untuk kebahagiaan diri sendiri. Lebih dari itu, berpikir untuk seluruh ummat manusia. Sungguh beruntung aku menjadi sahabat dakwah yang seperti ini. Menjadi sahabat dakwah yang tidak berteriak dengan harapan kosong, tetapi dengan teriakan yang berisi cita-cita agung. Maju terus sahabatku! Sahabat dakwahku.

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sahabat Dakwah

  1. Zen says:

    Sungguh pemilihan kata yang memikat membuat mata lekat-lekat dalam mencermati setiap alunan gagasan yang mengalir dalam tulisan ini. Ciri khas yang tak terduakan. Selamat berjuang bersama sahabat dakwah mas Syauqy, semoga dalam lindungan Allah SWT selalu..

  2. selamat berjuang juga Zen! masih aktif di FLP? sukses selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s