Peradaban Ilmu

Aspek yang paling menonjol yang membedakan umat agama yang satu dengan umat agama yang lain adalah pada aspek pandangan hidup (worldview) masing-masing agama itu. Konsepsi mengenai pandangan hidup inilah akan melahirkan ajaran dan konsep tentang Tuhan, manusia, ilmu pengetahuan, nilai atu etika dan realitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa peradaban adalah subordinasi agama, bukan agama sebagai subordinasi peradaban. Suatu peradaban yang diinspirasi oleh salah satu ajaran agama akan mendapatkan letak perbedaan pada aspek pandangan hidup (worldview) ini.
Dalam interaksi antar agama, pandangan hidup adalah hal yang harus dijaga dan dipegang teguh. Karena pandangan hidup ini yang akan menjaga orisinalitas tatanan suatu agama. Hal ini terwujud dengan lahirnya framework atau kerangka kerja yang khas sesuai pandangan hidup yang dipegang. Framework ini yang akan menjadi penyaring dalam mekanisme interaksi berupa saling memberi-menerima antar peradaban adalah hal yang pasti akan terjadi. Artinya tidak bersifat eksklusif atau tertutup. Karena keniscayaan ini maka orisinalitas pandangan hidup ini yang memungkinkan untuk menjalin interaksi dengan pandangan hidup yang lain.
Pandangan hidup yang membentuk ajaran dan perilaku umat Islam berakar dan bersumber dari al-Quran dan Sunnah nabi Muhammad saw. Semua aspek dan tatanan kehidupan manusia menurut Islam diatur dan bersumber dari al-Quran dan Sunnah. Ilmu pengetahuan sebagai salah satu aspek dalam kehidupan manusia karenanya harus mengambil inspirasi intelektualnya dari konsepsi al-Quran dan Sunnah nabi.

‘Ilmu dalam Pandangan al-Quran
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia menciptakan manusai dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha mulia. Yang (mengajar) manusia dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq [96] : 1-5)

Sejak awal mula risalah Islam diturunkan kepada Muhammad saw, inspirasi ajaran tentang ilmu menempati posisi yang penting. Dalam wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Alloh Swt kepada nabi Muhammad saw terdapat konsep keilmuan dan prinsip intelektual mendasar. Yaitu, membaca (iqro) dan proses pengajaran dan pendidikan (ta’lim). Dalam dunia keilmuan, membaca dan pengajaran adalah elemen kunci dalam menghidupkan dan mengembangkan tradisi keilmuan. Tanpa dua hal itu bisa dipastikan tak akan tumbuh tradisi intelektual atau keilmuan.
Dengan membaca maka proses penggalian dan proses mencari ilmu pengetahuan akan senantiasa berjalan. Lahirnya aneka macam disiplin ilmu pengetahuan dihasilkan oleh aktivitas membaca ini. Membaca dari teks, konteks (sejarah), dan semesta secara umum. Dari kegiatan membaca ini pula lahirlah aneka macam metodologi yang digunakan untuk menghasilkan disiplin ilmu yang khusus.
Sedangkan dari proses pengajaran akan melahirkan komunitas yang bergerak dalam proses transfer ilmu. komunitas ilmu ini yang nanti akan melanggengkan dan mengembangkan tradisi intelektual. Suburnya tradisi keilmuan dimotori oleh hadirnya komunitas pengajaran ini. Tradisi intelektual yang terbentuk dari komunitas ini menjalannkan proses pewarisan ilmu pengetahuan. Dalam komunitas ada proses transformasi intelektual antar generasi. Selain itu juga akan terbentuk struktur ilmu yang tertata rapi, karena dalam komunitas keilmuan ini akan ada upaya mengkaji suatu ilmu dengan tujuan metodologis yang jelas.
Ilmu dan pendidikan oleh karenanya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan guna memperoleh kebangkitan. Proses kebangkitan dan kejayaan akan sangat ditentukan oleh ada atau tiadanya tradisi keilmuan ini dalam suatu lingkup komunitas atau peradaban. Islam berkembang dan memperoleh kejayaan dalam catatan sejarahnya adalah karena tumbuh suburnya tradisi intelektual ini. Ilmu dan pendidikan menjadi bagian yang melekat (inherent) dengan kejayaan Islam. Islam jaya dengan ilmu dan pendidikan, maka selayaknya perjuangan untuk menggapai kebangkitan Islam kembali harus benar-benar memperhatikan aspek ilmu dan pendidikan ini. Karena ilmu adalah akar dari peradaban. Dan peradaban adalah buah dari ilmu.
Asal ‘Ilmu
“Dan Alloh yang mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya.” (al-Baqoroh [2]: 31)
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang mereka tidak ketahui.” (al-‘Alaq [96]: 5)

Manusia diciptakan oleh Alloh Swt tidak dibiarkan begitu saja tanpa diberi bekal untuk menjalankan misia dan tujuan penciptaan dari Alloh Swt. Alloh menganuherahkan kepada manusia pengetahuan tentang nama-nama sehingga mampu mengenali dan menggali segala apa yang terhampar dalam alam semesta. Nama-nama yang tersebut dalam ayat di atas yang membantu manusia memahami alam semesta. Al-Maududi menjelaskan bahwa :
“Sesungguhnya, seluruh informasi yang dimiliki manusia tentang segala sesuatu didasari atas kemampuannya untuk menentukan nama-nama segala sesuatu. Oleh karena itu, “mengajarkan nama-nama benda” kepada Adam berarti memberikan pengetahuan kepada Adam tentang benda-benda itu.”
Dari keterangan yang didapatkan dalam penggalan ayat al-Quran di atas dapat dikatakan bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan (dan semua hal di dunia) adalah berasal dari Alloh Swt. Hal ini menjadi penuntun dan menjadi petunjuk bahwa aktivitas keilmuan dalam Islam harus bermuara pada keyakinan bahwa ilmu itu dari Alloh Swt. Aktivitas keilmuan itu harus mempunyai dasar bahwa Alloh Swt yang pencipta semua ilmu.
Di samping menciptakan manusia, Alloh Swt juga menciptakan alam semesta. Kemudian Alloh Swt menurunkan wahyu sebagai kesatuan yang mengikat antara manusia dan alam semesta. Terkait dengan hal ini, Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa Alloh telah menciptaan manusia dan alam semesta ini dengan fithrah, namun karena akal manusia tidak mampu memahami alam ini dengan baik, maka Alloh menurunkan petunjuk yang berupa fitrah munazzalah yaitu al-Quran. Karena itu, konsep ilmu dalam Islam dipahami sebagai ikatan integratif (tawhidi) antara ketiga fithrah ini. Konsep yang integral (tawhidi) ini yang jadi basis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengetahuan akan asal-muasal ilmu merupakan hal yang penting dalam membangun bangunan epistemologi Islam. Asal-muasal ilmu ini akan menjadi pedoman dalam menyusun konsep keilmuan dalam Islam. Perbedaan pemahaman dalam memaknai asal muasal ilmu pengetahuan akan menjadikan perbedaan dalam menyusun konsep keilmuan. Selain berakibat dalam perbedaan pada konsep keilmuan juga akan berakibat pada perbedaan dalam menerima kualifikasi ilmiah dari suatu ilmu.
Dengan bangunan epistemologis ilmu yang integratif (tawhidi) ini, maka konsep keilmuan Islam menolak adanya pemisahan antara ilmu agama dan non-agama. Antara empirik-fisik dan metafisik. Sesuai dengan bangunan fithrah ilmu yang tawhidi ini, mengajarkan bahwa manusia butuh untuk mengetahui dan memaknai alam semesta sebagai realitas dari ayat (tanda) kauniyah dari Alloh. Juga perlu untuk mengetahui dan mempelajari realitas ayat (tanda) qouliyah Alloh. Realitas tidak hanya dimaknai sebagai yang nampak secara empiris saja, tetapi juga yang metafisik. Realitas beripa data dan fakta empiris (afaq) serta realitas yang tertanam dalam diri (anfus).
Dalam makna yang lain, Hibbah Rauf Izzat dalam karyanya Wanita dan Politik Pandangan Islam mengatakan bahwa antara ilmu syariat (wahyu) dengan ilmu yang berkaitan dengan fithrah manusia bersifat integral, tidak saling bertabrakan bahkan tidak boleh terpisah secara berdiri sendiri. Ilmu syariat (wahyu) yang dimaksud adalah berupa ajaran agama sebagai pengarahan dan petunjuk bagi manusia. Sedangkan ilmu fithrah adalah ilmu yang mengkaji manusia dan semua aspek penciptaannya, serta keperluan sosial, siyasah, ekonomi, dan moralitasnya.
kedudukan ‘Ilmu
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (Taha [20]: 114)

Alloh mengajarkan lewat dengan ayat di atas supaya manusia memohon kepada Alloh untuk diberikan tambahan ilmu. Kita yakini bahwa Alloh memerintahkan segala sesuatu dengan tujuan dan maksud tertentu. Alloh tidak memerintahkan dan menjadikan segala sesuatu dengan tanpa tujuan atau sia-sia. Demikian halnya dengan ilmu, sudah pasti Alloh mengajarkan kepada manusia untuk mendapatkan ilmu banyak dengan suatu tujuan dan manfaat.
Dalam kaitan itulah kita perlu menggali apa tujuan yang dikehendaki Alloh ketika memerintahkan manusia untuk menggali dan mencari ilmu. Tujuan yang dikehendaki Alloh ini terkait dengan penciptaan manusia, artinya bahwa tujuan ilmu seiring-sejalan dengan makna untuk menjadikan manusia sebagai sebenar-benarnya manusia (insaaniyyatul insaaniyyah). Di mana nilai manusia ini terkait dengan manifestasi dari tujuan ’ibadah dan misi khalifah.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(adz-Dzariyat [51]: 56)
Tujuan utama manusia dalam hidupnya adalah untuk melakukan peribadahan kepada Alloh Swt. Ibn Taimiyah mengaitkan ibadah yang harus dilakukan manusia dengan makna agama (ad-Din) yang mengandung arti ketundukan dan kepasrahan (al-khudhu’ wa adz dzill). Sehingga tujuan penciptaan manusia adalah beribadah hanya kepada Alloh Swt dengan pengertian yang luas dalam Islam sekaligus mengajarkan kepada manusia bahwa totalitas dirinya adalah hamba, yang memberikan konsekuensi bagi manusia untuk memelihara konsistensi dalam penghambaan dirinya kepada Alloh.
Dengan ini dapat dikatakan bahwa tujuan dari semua aktivitas manusia adalah dalam rangka ibadah kepada Alloh. Dan muara dari ibadah adalah ridho Alloh. Sehingga dalam hal ini tujuan dalam mencari ilmu adalah untuk mendapatkan ridho Alloh, sebagai salah satu bentuk ibadah kepadaNya. Sehingga kualitas ilmu yang diperoleh seseorang itu akan membawa ke arah kemaslahatan hidup manusia yang terefleksikan dari amal sholih. Seorang pemikir juga sekaligus ahli zikir, ahli zikir yang sekaligus pemikir.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. “ (Ali ‘Imran [3]: 190-191)

Selain dengan tujuan ini, manusia juga mengemban misi khalifah dalam hidupnya. Ibnu Khaldun mengutarakan dalam kaitan ini bahwa penciptaan manusia ini terkait dengan misi membangun peradaban (‘umron). Sebagai khalifah ini setidaknya manusia mempunyai tiga tugas utama. (1) memimpin dan mengatur kehidupan di bumi berdasarkan undang-undang Alloh, (2) memakmurkan bumi dan memanfaatkan potensi yang terkandung di dalamnya untuk kesejahteraan umat manusia berdasarkan petunjuk dan peraturan Alloh, (3) menyebarkan keadilan dan kemaslahatan.
Yuduf Qordhowi berpendapat bahwa tugas manusia sebagai khalifah sama kedudukannya dengan tugasnya sebagai hamba Alloh. Manusia adalah khalifah Alloh dan sekaligus hamba Alloh dalam waktu bersamaan. Argumen beliau diperkuat dengan ayat Quran berikut:
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu Khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh.” (Shaad [38]: 26)
“Dan ingatlah hamba kami Daud yang mempunyai kekuatan, dan sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (Shaad [38]: 17)
Penjelasan ini menunjukkan bahwa manusia yang mendapat predikat sebenar-benarnya manusia adalah manusia yang mampu menjalankan tujuan dan misi hidupnya ini dengan baik. Dan untuk membantu dan mengiringi manusia dalam menjalankan semua ini, Alloh menganugerahkan kepada manusia ilmu pengetahuan. Penguasaan dan keluasan ilmu secara melekat (inherent) akan mampu melaksanakan tujuan dan misi itu dengan baik. Ilmu yang punya konsep epistemologi Islam (wahyu) yang baik sudah seharusnya mengantarkan manusia pada kemuliaan kemanusiaannya yang sesungguhnya. Sebaliknya bila ilmu yang dimiliki manusia sedikit dan tidak memiliki konsep yang baik akan mengantarkan manusia kepada kedudukan yang paling rendah.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemudian Kami kembalikan mereka dalam tempat yang serendah-rendahnya.” (at-Tiin [95]: 4-5)
Waqi’ yang merupakan guru Imam Syafi’i mengatakan bahwasanya ilmu dan iman memiliki asal yang sama, kedua-duanya adalah cahaya. Sehingga ilmu yang semakin banyak akan mengakibatkan iman yang semakin mantap dan dalam. Sebaliknya juga terjadi jika iman seseorang semakin mantap dan dalam, berarti ia memiliki ilmu yang yang banyak. Ilmu dan iman karenanya berjalan seiring dan sejalan. Memohon untuk diberi tambahan ilmu bermakna juga minta dikuatkan dan ditambahkan nilai keimanan. Ibn Abd al-Barr mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya yang ditetapkan Alloh dalam hati manusia, karena itu hal yang penting adalah memahami dan mengamalkan ilmu tersebut.
Keutamaan Ilmu dan Orang Berilmu
Islam merupakan agama yang sangat menghargai akan pentingnya ilmu. Islam mendudukan orang yang berilmu dari golongan manusia dengan keduudkan yang dilebihkan daripada golongan yang tidak berilmu. Gambaran keutamaan ilmu yang dimiliki oleh seorang ‘alim di antaranya dapat kita perhatikan pada beberapa ayat-ayat al-Quran dibawah ini:
Alloh menjabarkan bahwa golongan makhluk yang paling bertaqwa (takut) kepada Alloh adalah golongan orang yang berilmu (‘ulama). Dengan demikian, kata Yusuf Qordhowi, ilmu haruslah melahirkan rasa takut kepada Alloh yang pada gilirannya mendorong kepada amal;
“Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (jenisnya). Di antara hamba-hamba Alloh yang takut kepada-Nya hanyalah para ‘ulama. Sungguh AllohMaha Perkasa dan Maha Pengampun.” (Fatir [35]: 28)

Golongan orang-orang yang berilmu yang dikatakan Alloh akan mampu mendapatkan makna dan pelajaran dari apa yang telah diperintahkan Alloh dibandingkan dengan orang-orang yang tidak berilmu. Perintah dan ajaran Alloh hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang berilmu saja. Orang yang tidak berilmu tidak akan mampu mengetahui apa yang diperintahkan Alloh. Kecintaan Alloh akan diberikan bagi orang berilmu yang menjalankan perintah Alloh dengan penuh rasa takut;
“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zumar [39]: 9)

Derajat ideal tertinggi manusia dihadapan Alloh ditentukan oleh derajat keimanan dan ilmu setiap manusia. Alloh akan melebihkan derajat (kedudukan) orang yang beriman dan berilmu. Tidak dalam tempatnya untuk memisahkan hakikat dan kedudukan ilmu dan iman.;
“…niscaya Alloh akan mengangkat (derajat) orang –orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. Dan Alloh Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujadalah [58]: 11)

Kedudukan manusia atau orang yang berilmu disejajarkan kedudukannya mendekati kedudukan para malaikat;
“Alloh menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian) pula para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan , tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (‘ali Imran [3]: 18)

Ilmu adalah pangkal segala sesuatu. Perkataan dan perbuatan menjadi bermakna dan berbobot dengan dilandasi oleh ilmu. Ilmu lebih penting untuk didahulukan daripada perkataan dan perbuatan. Kiranya tepat adanya suatu ungkapan yang mengatakan bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang berilmu dan berperilaku baik.” Pengetahuan tentang ke-tawhid-an Alloh dapat terwujud dengan adanya ilmu;
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Alloh, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Alloh mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (Muhammad [47]: 19)

Sunnah Berbicara Tentang Ilmu
Sunnah merupakan sumber kedua bagi umat Islam setelah al-Quran. Dalam hal ini Sunnah berfungsi menjelaskan dan menguraikan secara lebih rinci kandungan al-Quran. “Al-Quran biasanya membicarakan suatu perkara secara garis besarnya saja. Dan terkadang juga secara mendetail, tetapi Sunnah membicarakannya secara lebih rinci.” Urai Qordhowi.
Sebagaimana al-Quran, yang ajaran dan kandungan isinya berisi banyak konsepsi dan mentalitas tentang ‘ilmu. Sunnah nabi juga memiliki mentalitas yang sama dalam membangun semangat dan menguraikan keunggulan ‘ilmu. Nash-nash yang terkandung dalam kedua sumber quran dan Sunnah banyak yang membahas tentang ilmu. Tentang keutamaannya, derajat tinggi yang diberikan bagi pemiliknya, dorongan untuk mencarinya, kedudukan menuntut ilmu, keharusan selalu menambah dan memperbanyaknya. Dengan landasan ini Yusuf Qordhowi mengenalkan apa yang disebut sebagai fiqih ‘ilmu pengetahuan (fiqh al-ma’rifah).
“Fiqih ilmu pengetahuan itu ialah pemahaman yang didasarkan pada pengetahuan yang bernilai luhur dan mempunyai dasar yang kuat yang telah diberikan oleh Islam dalam Islamisasi ilmu pengetahuan.”
Hadits-hadits yang membahas seputar ilmu antara lain dibahas sebagai berikut:
“ Barangsiapa yang dikehendaki Alloh kebaikan. Ia jadikan paham (faqih) baginya dalam agama.” (al-Bukhori, Kitab al-‘ilm, bab 14)
“Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah menurunnya ilmu dan munculnya ketidak acuhan.” (al-Bukhori, Kitab al-“ilm, 71)
“Alloh tidak mencabut ilmu dengan merebutnya dari manusia, tetapi mengambilnya melalui matinya ‘ulama hingga tak ada lagi ‘ulama. Manusia mulai menerima orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka. Jika mereka ditanya, mereka memberikan informasi tanpa ilmu. Kemudian mereka menjadi sesat dan memimpin rakyatnya dengan sesat.” (al-Bukhori, Kitab al-“ilm, 86)
“Barangsiapa ditanya sesuatu yang ia tahu tapi menutupinya, maka ia (ilmu itu) akan menyemburkan api padanya pada Hari Pembalasan.” (al-Bukhori, Kitab al-“ilm, 3650)
“Seseorang yang berilmu (faqih) lebih dibenci oleh setan dari pada orang sholeh (‘abid).” (Ibn Majjah “muqoddimah”, 222)
Di antara hadits yang paling penting yang membahas tentang ilmu adalah hadits tentang kewajiban menuntut ilmu. Mengenai hadits itu “para ulama”, kata Qordhowi, “berbeda pendapat mengenai ilmu apa yang wajib dicari manusia, karena cabang itu banyak, bidangnya bermacam-macam, dan cakrawalanya luas dan tidak terbatas.” Yang pasti semua ilmu yang bermanfaat bagi agama dan dunia wajib untuk dicari. Kewajiban itu terembankan bagi semua umat Islam; baik laki-laki maupun perempuan.
“Mencari ilmu (pengetahuan) itu wajib bagi setiap Muslim.” (Ibn Majjah, “Muqoddimah”, 17, 224)
[ *** ]

Dari penjelasan dan keterangan dari al-Quran dan Sunnah dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan hidup Islam yang notabena berakar dari Quran dan Sunnah memulai penekanan dan memberi perhatian yang sangat khusus tentang ilmu. Ilmu menjadi sebuah bagian yang penting dalam bangunan kehidupan dan tata laku umat Islam.
Ilmu menjadi kunci dalam memulai sebuah usaha membangun peradaban. Maju dan mundurnya sebuah peradaban ditentukan oleh maju mundurnya ilmu pengetahuan yang dimiliki atau dikuasai. Oleh karena itulah, tepat kiranya ketika Ibnu Khaldun mengatakan bahwa “sebuah daerah akan mendekati ambang kehancuran, ketika hilangnya aktivitas keilmuan”. Suatu daerah atau kehidupan mengalami kemunduran karena aktivitas keilmuan tidak menjadi perhatian yang serius. Kehidupan akan mengalami kemunduran jikalau tidak ada usaha untuk membangkitkan dan membangun ilmu. Peradaban akan selamanya tenggelam dalam keterpurukan manakala perjuangannya tidak mengambil titik tekan pada peningkatan kualitas dan kapasitas ilmunya. Ilmu adalah akar dan pondasi utama bagi kemajuan peradaban. []

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s