Jalan Cinta

Tentang cinta. Membicarakan tentang cinta secara khusus akan menghadirkan perasaan riuh-rendah dalam kesadaran. Ada kehendak untuk melihat ke dalam perasaan lebih mendalam. Lebih jauh dan penuh pemaknaan. Getar-getar romantika adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kisah cinta. Cinta adalah kuasa hati. Cinta adalah Perasaan. Cinta adalah wujud dari penyifatan.

Membicarakan cinta adalah membahasakan perasaan-perasaan melankolis. Bahasa cinta adalah bahasa perasaan. Berbicara dengan desir yang pelan, menelisik dalam ruang makna yang membutuhkan penerjemahan yang jujur. Renda-renda cinta sebagian besar dihiasi dengan sulaman kisah-kisah melankolik Layla Majnun. Desah nafas romentisme kisah Romeo dan Juliet, ataupun romantisme retoris Rangga dengan Cinta.

Bagian yang lain dari renda kehidupan ini disulam oleh kisah cinta yang didominasi oleh wujud kebendaaan. Cinta adalah dominasi pikiran mutlak. Dalam dominasi pikiran ini, kita lihat di belahan dunia ini ada arogansi atas nama cinta yang berlebihan atas keunggulan ras. Cinta dalam bingkai rasialisme ini tercatat dalam sejarah panjang penjajahan Zionisme atas tanah Palestina. Cinta atas dasar pikiran kekuasaan ekonomi-politik yang menjadi legitimasi atas tertumpahnya banyak darah di Irak, Afghanistan, dan belahan dunia lain. Cinta ini tidak menghargai kemanusiaan.

Demikian, cinta menjadi ruang yang menempati kotak pemaknaan yang berbeda. Satu makna dalam kotak perasaan, kotak satunya adalah kotak pikiran. Cinta ini menjadi hal yang ‘membingungkan’ disebabkan semua berbicara atas nama ‘cinta’. Cinta menjadi legitimasi sikap dan kebijakan.

Ada baiknya kita simak sejenak bait-bait puisi Iqbal ini;

Pengetahuan bersemayam dalam pikiran,

tempat cinta adalah hati yang sadar-jaga;

selama pengetahuan tak sedikit juga mengandung cinta,

adalah itu hanya permainan sulap si Samiri;

Kita membutuhkan formula baru tentang cinta. Cinta yang menghadirkan cerita cinta yang berbeda dari kisah cinta penyifatan-perasaan atau cinta kebendaan-pikiran. Formula itu adalah cinta hasil sintesa dari pikiran dan perasaan sebagaimana yang diikhtiarkan oleh Iqbal di atas. Cinta dari formulai pikiran dan perasaan ini adalah cinta sebagai wujud keaktifan. Cinta sebagai ruang ekspresi dari hasrat untuk sebanyak-banyaknya memberi.

Cinta formulasi baru ini diilhami atas kepekaan perasaan yang melihat dinamika gejala kehidupan. Cinta ini merangsang pikiran untuk menghadirkan solusi dan kemanfaatan dalam dinamika kehidupan itu. Kepekaan dari cinta ini menghindarkan dari arogansi. Kecerdasan dalam cinta ini mengasingkan perasaan lemah dan melihat jauh ke masa depan. Cinta pikiran-perasaan ini menjadi kekuatan dalam kehidupan.

Cerita cinta hasil formulasi ini adalah kisah tentang perjuangan. Kisah tentang pengorbanan. Kisah tentang kemanfaatan. Cinta adalah memberi, memberi segala yang bisa diberikan. Cinta adalah menumbuhkan bagi semua yang dicintai. Cinta ini tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Lebih dari itu, cinta ini hidup untuk orang lain di sekitarnya. Karenanya cinta ini akan menjadi abadi dalam belantara kisah cinta yang lainnya.

Pengabdian terhadap hakikat kemanusiaan sebagai makhluk Tuhan adalah semangat yang diusung oleh cinta ini. Ia membangkitkan hasrat untuk eksis dalam hidup. Ia membangkitkan energi dan kekuatan positif dalam masyarakat dan kehidupan. Ia mengilhami dan menginspirasi dari nilai dan semangat kepahlawanan. Cerita cinta ini adalah awal dari cerita kepahlawanan. Cerita kepahlawanan adalah muara dari cerita cinta pikiran-perasaan ini. Cerita sukses pahlawan dimulai dari cerita cinta yang demikian ini.

Pahlawan adalah pribadi yang asing dari kehidupan berbangsa kita. Ketiadaan pahlawan ini bisa jadi karena ketiadaan hadirnya cinta pikiran-perasaan ini. Nilai-nilai cinta ini yang mengabdikan untuk kehidupan orang banyak seolah hilang dalam semangat kebangsaan kita. Akibatnya bangsa kita ini diliputi perasaan benci, rasa dendam terhadap masa lalu, selalu berpikir negatif, dan kehilangan kepercayaan sesamanya baik secara horizontal maupun vertikal. Boleh jadi, inilah permasalahan terbesar bangsa kita yang menghalangi hadirnya nilai dan sikap positif dalam menjalani kehidupan berbangsa ini.

Perjuangan untuk membawa kehidupan bangsa yang lebih baik, merupakan perjuangan untuk menghadirkan kembali semangat kepahlawanan dalam spirit bangsa kita. Hal ini bisa dimulai dengan menghadirkan kembali perasaan cinta yang dilandasi nilai luhur yang menggerakkan perasaan, yang menstimulus kecerdasan dalam menyelesaikan segala tantangan. Sehingga akan tampak beda antara orang yang benar-benar mencintai bangsanya dengan yang berpura-pura mencintai bangsanya. Dengan demikian cerita cinta yang baru ini akan memberi warna baru dalam kehidupan.

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

2 Responses to Jalan Cinta

  1. Zen says:

    “Pahlawan adalah pribadi yang asing dari kehidupan berbangsa kita. Ketiadaan pahlawan ini bisa jadi karena ketiadaan hadirnya cinta pikiran-perasaan ini.”

    “…kepahlawanan bisa dimiliki siapa saja, sebab yg dinilai adalah kerja dan sikap, bukan gelar yg dibanggakan.[dby]” >>> http://matahati01.wordpress.com/2010/09/26/mereka-yang-susah-dihapus-dari-ingatan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s