Alam Raya Cinta

Sejenak kita berpikir dan berbincang sebagaimana kebanyakan orang berpikir.

Orang seringkali membicarakan cinta. Suguhan visual dalam layar kaca menghadirkan kisah-kisah cinta yang menguras habis perasaan tanpa makna. Tanpa mengasah kepekaan akal berpikir. Itu sebab semua seolah-olah berbicara atas nama hati. Atas nama cinta. Cinta dipisahkan dalam kerangka kerja konseptual yang terfragmen dari kerja pikiran. Tidak usah heran jika kemudian cinta itu bisa membunuh. Jika cinta itu selalu berurai air mata. Cinta karenanya tidak termaknai secara sederhana. Semakin banyak dibicarakan dan dijadikan bahasan tetapi tidak semakin tahu dan makin memahami. Cinta hanya jadi ratapan. Bukan sebagai kekuatan.

Cinta dalam kerangka kerja ini membicarakan hal yang abstrak. Dalam kerja yang penuh dengan angan-angan semu. Semua serasa indah. Penuh dengan janji. Sehingga cinta itu menjadi kebutuhan untuk senantiasa diperhatikan dan menuntut. Bukan kerja memberi. Dan memberi itu adalah pekerjaan yang konkrit. Dan sungguh dalam makna yang konkrit ini, cinta menjadi ada dan berada.

Kristalisasi makna cinta yang konkrit ini adalah semangat untuk berkorban. Cinta dalam kerangka ini menjadi milik semua. Menjadi hak bagi semua. Untuk semua. Semua bisa mencintai. Semua berhak dicintai. Sang pecinta sejati adalah yang paling banyak berkorban. Paling banyak memberi. Makna ini yang lenyap dalam prosesi cinta kebanyakan berpikir dalam lingkungan hidup sekarang.

Alam raya adalah bukti perayaan cinta. Bukan hanya seremoni simbolis semata. Gersang tanpa kesejukan. Atau hanya bunga-bunga kata yang bohong semata. Bukan itu. Tapi adalah mentari yang selalu menghangatkan hidup, tidak ada protes ketika kemunculannya digantikan terang rembulan. Tidak saling menghilangkan, tetapi saling ada peran yang bersinergi. Baik nampak ataupun tidak nampak. Kemanfaatan adalah bukti keberadaan. Sehingga yang terasa bukan sebuah rutinitas, tetapi sebuah eksistensi.

Hujan yang meniadakan awan.

Api yang meniadakan sebatang kayu menjadi abu.

Bukan basa-basi itu semua.

Apa adanya.

Kenapa? Karena cinta ini memiliki muara. Bekerja dalam saluran-saluran yang menghantarkan ke gerbang kemuliaan. Saluran yang memuat aliran energi kebaikan yang banyak. Bukan racun yang menyesakkan. Saluran yang menghantarkan cinta tidak hanya dalam kerangka kerja melankolik. Yang hanya memuja romantisasi ujud yang abstrak. Tetapi merupakan kehadiran yang memberi arti. Cinta yang tercerahkan dan memberi pencerahan.

Cinta yang bermakna.

Bagi seluruh ruang kehidupan.

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s