Coretan Pembuka

Perjalanan sejarah itu, sebagaimana disarikan oleh Taufik Abdullah, adalah gabungan antara persambungan dan perubahan. Persambungan dari mata rantai ajaran yang tetap dan mengikat secara keseluruhan gerak. Mata rantai yang menjadi doktrin ideologis bagi sebuah keutuhan. Perubahan adalah cara menafsiri kenyataan yang dihadapi, cara menyaring derasnya informasi, cara mengkonseptualisasi ide-ide baru. dengan ini, akan didapatkan kecemerlangan, karena mendapatkan basis legitimasi yang kuat dan ketepatan mencermat setiap deru zaman.

Waktupun berlalu, sejarah kemudian mencatat. Ada sebagian yang mencoba untuk tetap kukuh dengan misi penyambungan ajaran, dengan ideologi dan doktrin awal. “Sacred mission” yang diemban adalah mempertahankan orisinalitas dari segala yang dicurigai akan menimbulkan penyimpangan. Sebagian lagi berakrobat dan bergerak lincah untuk menyusun retorika, mengurai ide-ide segar, mengoperasikan konsep-konsep atas nama perubahan. Masing-maing berlomba, dan masing-masing percaya pada jalan yang ditempuh, akan mengantarkan pada suatu kejayaan dan kecemerlangan.

Semuanya kini beramai-ramai mengunggulkan kepemimpinan yang bercirikan kolektif-transformatif. Suatu model kepemimpian yang menegasikan pesona atau kharisma seoang individu, digantikan oleh kekuatan profesioanal individu. Kepemimpinan individual-kharismatis diletakkan dalam ruang pengap masa. Seolah tabu untuk membicarakan dan menawarkan kembali corak kepemimpinan itu.

Namun, sejarah mengajarkan. Dalam rentang perjalanan yang ditempuh suatu kumpulan manusia, dengan segala masalah dan tantangan yang dihadapi, tarikan akan suatu roman sejarah menjadi begitu manis untuk direguk. Roman sejarah itu akan membawa pandangan untuk melihat ke arah sebelum terjadi hiruk-pikuk. Ke suatu bentangan waktu yang seolah tiada “dosa” dan penuh kedamaian. Turut serta dalam romantika adalah bayangan akan sosok yang (seolah) telah lama mengendap dalam sanubari dan ingatan. Sosok itu menjadi bayangan dan pikiran utama dan perlu segera untuk didatangkan kembali.

Bukan kita untuk mengutuk masa, dan kemudian bermalas-malas dengan masa lalu. Bukan juga hendak mengkultuskan suatu sosok tertentu. Namun, untuk dicatat, bahwa saat muncul turbulasi gerakan, bayang-bayang itu akan muncul. Dan pada saat inilah, kehadiran kharisma seorang tokoh itu sangat diperlukan, paling tidak dalam dua hal. Pertama untuk mengintegrasikan kembali riak-riak dan polarisasi di internal, dan kedua untuk mampu menjadi benteng kokoh atas hempasan musuh,

Oleh karenanya, ketika sedang berasyik-masyuk dan penuh gairah untuk memformulasi sebuah kepemimpinan kolektif-transformatif, jangan lupakan pula untuk tetap mennyadiakan stok sesosok, minimal, pemimpin yang kharismatis. Di tengah hingar-bingar untuk mencari pemimpin yang fungsional dan profesional, jangan lupa untuk mencari juga sosok yang penuh pesona. Ketika sibuk dengan agenda kaderisasi untuk hadirya sosok intelektual, jangan lupa untuk mengkaderisasi sosok ulama’. Syukur-syukur, jika dua hal itu menubuh menjadi satu; ulama yang intelktual atau intelektual yang ulama.

27 Agustus 2010.

This entry was posted in Tulisan Lepas. Bookmark the permalink.

2 Responses to Coretan Pembuka

  1. anyta says:

    aslmkum,
    alhamdulillah ketemu syauqi lagi😀
    aslmkum,
    alhamd bisa silaturahim ma syauqi lagi nih😀
    piye kabare antum?

    hmmm, semoga antum siap menjadi sosok itu : ulama yang intelktual atau intelektual yang ulama, amin…

    ane link blog antum ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s