Perempuan Berkualitas

NASKAH PIDATO

Perempuan Berkualitas sebagai Tiang Masa Depan Bangsa

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat walafiat. Tak lupa shalawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Hadirin sekalian yang budiman.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan sebuah pidato yang berjudul Perempuan Berkualitas sebagai Tiang Masa Depan Bangsa. Mengapa masa depan sebuah bangsa berkaitan erat dengan sosok perempuan berkualitas? Siapakah sosok perempuan berkualitas itu? Dua poin utama ini yang akan kami bahas dalam pidato singkat ini.

R.A. Kartini dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” terjemahan Armijn Pane mengungkapkan optimisme terhadap peran seorang perempuan bagi kemajuan suatu bangsa. Demikian isi pikiran dari R.A. Kartini: perempuan itu jadi soko guru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap untuk itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh bahwa dari perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya, dalam hal membaikkan maupun memburukkan kehidupan, bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan bangsa.

Perempuan memiliki peran dan potensi besar untuk membentuk wajah masa depan suatu bangsa; membaikkan atau memburukkan. Tentunya, masa depan yang lebih baik, cerah dan gilang-gemilang akan dapat hadir jika para perempuannya adalah perempuan berkualitas. Sebaliknya, masa depan bangsa akan buruk dan suram jika kualitas para perempuannya rendah. Maka adalah suatu hal yang masuk akal bagi seluruh elemen bangsa untuk menaruh perhatian yang besar dalam upayanya untuk mencetak perempuan-perempuan yang berkualitas.

Pada beberapa aspek, perempuan mengalami banyak ketertinggalan. Tingkat partisipasi perempuan dalam bidang pendidikan misalnya masih tertinggal dari laki-laki. Angka putus sekolah anak perempuan di tingkat SD, SMP, maupun SMA pun masih lebih besar dari anak laki-laki. Bahkan, dari sekitar 9,7 juta penduduk buta huruf di Indonesia, 64 persennya adalah kaum perempuan. Angka kematian ibu juga masih sekitar 228 tiap 100 ribu kelahiran. Untuk posisi dan beban kerja yang sama, pada banyak kasus, upah perempuan masih lebih rendah.

Perempuan berkualitas bukanlah sosok bidadari jelita yang turun begitu saja dari langit. Akan tetapi, perempuan berkualitas adalah hasil dari sebuah upaya yang sistematis dari lingkungan sosial-politik untuk secara serius menempa perempuan hingga menjadi sosok yang berkualitas. Saham terbesar yang diwariskan oleh R.A. Kartini adalah kesadaran untuk memperhatikan dan memperbaiki kualitas hidup seorang perempuan. Upaya serius untuk mencetak perempuan berkualitas telah dimulai oleh R.A. Kartini. Upaya ini harus dilakukan dalam waktu cukup panjang dan secara konsisten, bukan dalam waktu pendek demi mengejar target kejar tayang yang instan.

Hadirin sekalian yang budiman.

Bagaimanakah sosok perempuan berkualitas itu? Pertama, perempuan berkualitas adalah sosok yang cerdas dan terdidik. Perempuan berkualitas merupakan salah satu fondasi untuk menciptakan generasi mendatang yang juga berkualitas. Dari perempuanlah untuk pertama-tama seorang manusia memperoleh didikannya; anak-anak mendapat pelajaran berkata-kata, berpikir, dan merasai sesuatu. Sekali lagi R.A. Kartini menyampaikan pikirannya: makin tahulah saya, bahwa didikan yang mula-mula itu bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian harinya. Dan betapakah seorang ibu sanggup mendidik anaknya, bila mereka sendiri tidak berpendidikan?

Meskipun tanggung jawab pendidikan anak merupakan tugas kedua orang tuanya, seorang ibu memiliki intensitas kedekatan dan kelekatan yang lebih dengan anak, satu hal yang tidak bisa tergantikan. Perempuan berkualitas adalah perempuan yang terdidik, cerdas, dan terutama juga adalah berakhlaq dan berbudi mulia. Sehingga akan terlahir generasi yang cerdas pikirnya, baik pekertinya, dan terampil berbuat.

Oleh karena itu, maka akses pendidikan bagi perempuan harus terbuka dan ditingkatkan secara terus menerus. Dalam tarikh Islam, Nabi Muhammad SAW membuat jadwal khusus untuk menyampaikan pengajaran agama Islam kepada para perempuan.

Kedua, perempuan berkualitas adalah sosok perempuan yang sadar akan potensi yang dimilikinya dan mengembangkannya. Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh kontribusi dari masing-masing manusianya, termasuk juga perempuannya. Kontribusi dapat berjalan maksimal jika sesuai dengan kemampuan, potensi dan kapasitas yang dimiliki oleh masing-masing individu. Perempuan berkualitas adalah sosok yang hadir berkontribusi bagi lingkungan dan bangsanya sesuai dengan potensi yang dimilikinya; menjadi ilmuwan, politisi, dokter, penyair, ibu rumah tangga, akuntan, dosen, atlet, pendidik dan lain-lain.

Kriteria yang ketiga, perempuan berkualitas adalah perempuan yang mampu menjadi partner dan mitra kerja yang baik bagi laki-laki. Rumah tangga dapat berjalan dengan indah jika ada kerjasama antara suami-istri. Pada hal tertentu, perempuan adalah ’pemimpin’ laki-laki dalam mengatur keuangan keluarga, mempersiapkan kebutuhan suami, dan memenuhi kebutuhan rumah-tangga lainnya. Keberhasilan dalam membangun sebuah keluarga itu berarti juga memberi kontribusi dan solusi bagi kemajuan bangsa; minimal tidak menambah permasalahan yang dihadapi bangsa; kenakalan remaja, narkoba, seks bebas dan lain-lain.

Hadirin sekalian yang budiman.

Dalam acara Baiduri ke-5 di Riau, Pekanbaru, Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yaitu Ibu Linda Amalia Sari Gumelar menyampaikan bahwa, “Perempuan berkualitas merupakan syarat untuk mendukung percepatan kemandirian & kemajuan negeri.” Maka marilah kita semua berupaya untuk secara sungguh-sungguh menghadirkan sosok perempuan berkualitas sehingga cita-cita masa depan bangsa yang maju dan bermartabat dapat terwujud.

Demikian pidato yang saya sampaikan, semoga menjadi sebuah pemantik kita dalam usaha untuk mencetak sosok-sosok perempuan berkualitas. Atas perhatian dari para hadirin saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu ‘alaykum warahmatulahi wabarakaatuh

| Leave a comment

Memaknai Belajar

Beberapa waktu yang lalu aku sempat membaca sebuah buku berjudul Cara Belajar Para Ilmuwan Dunia yang membahas bagaimana proses belajar yang ditempuh oleh para ilmuwan terseut hingga sejarah mencatat mereka dengan karya-karya monumental yang diakui dunia. Secara singkat proses yang mereka tempuh membenarkan perkataan Aristoteles: kita adalah apa yang kita lakukan secara tekun berulang-ulang. Ada beberapa hal yang aku catat setelah mengkhatamkan buku tersebut.

Pertama, kecerdasan merupakan anugerah yang tidak setiap orang mendapatkannya. Namun kecerdasan bukanlah suatu faktor utama. Aspek dinamis dari kecerdasan mengharuskan bahwa kecerdasan harus dikembangkan dan dilatih terus-menerus. Mengutip Rhenald Kasali dalam bukunya Myelin, keberhasilan ditentukan oleh dua hal utama: brain memory (kecerdasan) dan muscle memory (latihan berulang). Dari kisah yang diulas dalam buku itu, tampak sekali bahwa para ilmuwan itu selain berbekal kecerdasan yang di atas rata-rata juga memiliki ketekunan belajar dan fokus di atas rata-rata. Dalam literature pendidikan, apa yang para ilmuwan itu lakukan disebut sebagai deliberative practice; latihan berulang-ulang dengan fokus pada minat dan kompetensi.

Kedua, semangat otodidak yang luar biasa. Otodidak disini tidak berarti menihilkan peran pendidikan formal, namun lebih dari itu, para ilmuwan tersebut memiliki curiosity yang luar biasa dan tidak cepat puas atas capaian yang telah diperoleh. Semangat mencari dan terus menggali diwujudkan dalam upayanya secara mandiri dalam mempelajari suatu ilmu.

Ketiga, para ilmuwan itu adalah orang yang konsisten dan tidak mudah goyah untuk menapaki jalan sunyi. Mafhum diketahui bahwa jalan ilmu adalah jalan yang jauh dari hingar-bingar. Jalan yang terasing dari sorot lampu panggung. Ketika teman sebayanya asyik bermain, mereka asyik menekuni literatur dan berjibaku dengan aneka eksperimen. Mereka bisa dikatakan sebagai orang ‘aneh’ dan unik.

Keempat, pada akhirnya mereka adalah orang yang berani menulis dan mempublikasikan karya dan penemuan mereka sehingga dunia bisa mengetahuinya. Dengan mempublikasikan karya, mereka telah mewariskan jariyah yang besar bagi umat manusia. Dan secara tidak langsung, mereka telah menjadi ‘guru’ yang mengajar suatu ilmu bagi generasi mendatang. Sehingga dialektika keilmuan akan terus terbentuk dan terjalin secara simultan. Publish or perish.

Empat hal di atas bukanlah jumlah maksimal pelajaran yang dapat diperoleh dari buku itu, karena masih banyak hal lain yang mungkin bisa digali oleh orang lain. Terlepas dari itu semua, hal yang paling pokok buatku adalah: belajar adalah ruh dari kehidupan. Dalam setiap fase dan perkembangan hidup kita, belajar adalah kunci agar berhasil melalui fase-fase itu dengan baik. Selamat belajar dan jangan pernah berhenti belajar!

| Leave a comment

Manusia Ide

“Sebagaimana manusia…, gagasan dan teori itu bergerak, dari pribadi ke pribadi, dari situasi ke situasi, dari periode ke periode.” [Edward W. Said]

Komunitas manusia adalah komunitas yang hidup, ia tidaklah berupa materi mati. Ia akan bergerak, tumbuh dalam rentangan usianya masing-masing. Ia akan terus hadir dan memperbarui diri. Memperbarui diri baik secara kuantitas dan juga kualitas, dengan jalan mereproduksi keturunan dan gagasan. Keturunan yang menentukan kebanggaan nasab. Gagasan yang akan menunjang seberapa jauh ia sukses dalam laga kehidupan.

Eloknya jika keberlangsungan keturunan itu bersanding dengan keberlangsungan gagasan. Setiap yang lahir dan hadir di dunia telah pula mewarisi gagasan yang ada. Hingga ia akan lahir tidak dalam ruang kosong yang masih perlu diisi. Hingga ia tidak hadir dalam ruang keabu-abuan. Tapi, begitu tidak mudahnya untuk menyandingkan keberlangsungan keturunan dan gagasan.

Patah-tumbuh, hilang-berganti. Sebelum ada yang patah sudah ada bibit baru. Sebelum yang lama hilang, yang baru sudah siap mengganti. Proses ini akan berjalan baik jika setiap gerak dan perubahan manusia harus dibarengi dengan gerak dan perubahan gagasan. Manusia tidak hanya berada pada satu kondisi yang tetap, tidak juga berada pada kondisi yang menjadi objek perubahan. Karena itu, gagasan tidak boleh tetap atau statis, gagasan harus diperluas spektrumnya dari objek menjadi subjek.

Akhirnya, era yang lalu sudahlah berlalu. Era saat ini masih menjelang dan akan berlalu, dan era yang akan datang akan menjelang. Era saat ini adalah kelanjutan dari gagasan era yang lalu. Era di masa datang adalah gagasan era saat ini. Setiap era itu menempati ruang kemanusiaan yang berbeda, akibatnya gagasan yang muncul akan berbeda pula. Gagasan yang lalu tidak persis sama dengan gagasan-gagasan sesudahnya. Namun, mengetahui mata rantai gagasan yang pernah ada itu sangat penting. Karena kebolehjadian gagasan itu tidaklah selalu inheren dengan masanya. Ada yang tidak up to date, ada juga yang terlampau futuristik.

Ya, manusia dan gagasan itu bersama-sama eksistensinya. Setiap kelahiran manusia melahirkan gagasan baru. Sehingga gagasan akan semakin banyak. Baik dan buruk, layak dan tidak layak. Di tengah banyaknya gagasan itu, tuntutan untuk mengajarkan gagasan-gagasan bagi  setiap manusia yang hadir, bagi ketururnan selanjutnya adalah penting untuk dipersiapkan. Sehingga gagasan-gagasan kita berlanjut dan gagasan-gagasan itu menjadi subjek bagi perubahan.

| Leave a comment

Pertama-tama, Berilmulah!

Berdirilah jin ‘Ifrit lalu berkata, “aku akan datang dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” Berselang kemudian manusia yang berilmu mengungguli kesanggupan jin ifrit, “aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Perpindahan singgasana Ratu Balqis dari negeri Saba’ (Yaman sekarang) ke istana Nabi Sulaiman as di Palestina itu terjadi dalam dimensi objektif manusia, tidak dalam dimensi ghaib jin. Hal itu terjadi berkat kemampuan dan keunggulan ilmu.

Lantas, ilmu apakah yang dimaksud? Ilmu yang berkait dengan perpindahan antar-ruang seperti kisah Nabi Sulaiman as dikenal sebagai teleportasi. Fenomena dalam ilmu Fisika yang membuat teleportasi menjadi mungkin adalah belitan kuantum (quantum entanglement). Eksperimen teleportasi yang sukses oleh tim Anton Zeilinger dari Universitas Insbruck pada tahun 1997. Impian tentang perjalanan jauh yang mampu memindahkan objek yang terpisah jauh dapat dilihat dalam film serial Star Trek karya Gene Roddenberry.

Peristiwa di atas menunjuk bahwa ilmu adalah faktor pembeda manusia dengann makhluk lainnya. Keagungan dan kehormatan manusia disebabkan natijah ilmunya. Dengan ilmu manusia menempatkan alam semesta secara adil, bahwa alam semesta adalah sebuah ‘buku’ yang agung yang terbuka untuk untuk dipelajarai, dimengerti, dan ditafsiri. Hanya manusia yang memiliki kefahaman, kecerdasan, dan ketajaman akal juga intuisi ilmiahnya dapat mengetahui dan memaknai ‘buku’ tersebut. Alam semesta adalah medan untuk penyelidikan dan penelitian ilmiah yang serius yang menghantarkan pada rahasia Sang Pencipta. Ilmu adalah kuasa bagi manusia untuk ‘menaklukkan’ semesta.

Ilmu, sebagaimana wujud manusia yang terbagi dalam dwi hakikat, demikian juga ilmu tergolong dalam dua jenis; ilmu yang berperan untuk memberi asupan gizi untuk menghidupkan jiwa, dan ilmu yang memberi bekalan bagi manusia untuk menjalankan tugas-tugas bagi keberlangsungan hidup di dunia. Ilmu yang pertama merujuk pada kebenaran objektif dan mutlak karena diberikan langsung oleh Allah swt melalui wahyu al-Quran untuk membimbing manusia. Sementara ilmu yang kedua merunut pada pengamatan, penelitian dan penyelidikan rasional dan pengalaman yang dapat diperoleh dari pancaindra (sensible) dan difahami oleh akal (intelligible). Ilmu jenis pertama memberi bimbingan kedudukan manusia dan kedudukannya dengan Allah swt. dan berkaitan dengan tujuan asasinya. Sehingga ilmu jenis yang pertama ini menjadi prasyarat dan dasar utama bagi ilmu jenis kedua. Karena ilmu jenis kedua tanpa bimbingan ilmu yang kedua tidak akan mampu menuntun manusia dengan benar, baik, dan adil dalam tujuan kehidupannya.

Pengklasifikasian ilmu di atas tidaklah kaku terpisah, karena pada dasarnya semua ilmu itu berasal dari Allah swt.. Segala sesuatu yang berasal dari Allah tentunya adalah baik (haqq), ilmu yang benar akan menuntun pemiliknya hanya pada hal-hal yang baik, akan menunjuki pada kebenaran serta akan membentuk ‘manusia yang baik’ yang tertanam dalam dirinya kebaikan dan keadilan. Ilmu yang baik dan benar tidak akan menghantarkan si empunya pada keburukan, kezaliman dan kerusakan.

Ilmu adalah suluh penerang bagi rahasia yang membutuhkan pengungkapan. Ilmu memberi kuasa bagi si empunya tentang pilihan-pilihan, sikap dan kemajuan. Ilmu adalah penanda sejarah; maju-mundur, bangkit-runtuhnya umat manusia dapat dilihat dari bagaimana sikapnya terhadap ilmu. Suatu sejarah umat manusia, kata Ibnu Khaldun, akan mendekati ambang kehancuran, ketika hilangnya aktivitas keilmuan. Maka, pertama-tama dan utama, berilmulah!

| Leave a comment

Bung Hatta, Pendidikan Karakter, dan Islam

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa….”(UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 3)

Tak diragukan lagi, kini pendidikan karakter merupakan bahasan yang menarik sekaligus menyita perhatian bagi banyak kalangan, terutama bagi mereka yang bergerak di dunia pendidikan. Terminologi ini menjadi semakin populer setelah Mendiknas RI mencanangkan pendidikan berbasis karakter pada saat peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Lantas, apakah pendidikan berbasis karakter baru menjadi perbincangan hangat dalam kurun waktu terakhir ini?

Salah seorang Bapak Bangsa yang juga dikenal sebagai Pengawal Hati Nurani Rakyat, Bung Hatta, lebih dari separo abad yang lalu sudah memperbincangkan tentang pentingnya pembentukan karakter sebagai tujuan dalam pendidikan. Produk-produk yang dihasilkan dari dunia pendidikan di samping mempunyai kecakapan dan kecerdasan mutlak diperlukan adanya pembentukan watak kepribadian sehingga mampu berguna dalam kehidupan masyarakat. Bagi Bung Hatta, “tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektual dan moral. Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”

Berikut ini kutipan beberapa bagian dari pidato yang disampaikan oleh Bung Hatta dihadapan para alumni Universitas Indonesia pada tahun 1957. “Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia manusia yang berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja. Pangkal segala pendidikan karakter adalah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Pendidikan ilmiah dapat melaksanakan pembentukan karakter itu, karena –seperti yang saya katakan tadi- ilmu ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”

Dari ucapan ini, pendidikan karakter adalah pondasi dan bagian yang melekat dalam aktivitas pendidikan ilmiah. Karena pendidikan karakter menumbuhkan pembelaan dan cinta terhadap kebenaran, sementara aktivitas pendidikan ilmiah berkehendak untuk memverifikasi hingga mendapatkan kebenaran. Pendidikan karakter menjadi pelengkap puzzle dari cita-cita luhur yang ingin dicapai dari proses pendidikan Indonesia: terwujudnya manusia Indonesia yang seutuhnya.

Selanjutnya, dalam bagian lain pidatonya, Bung Hatta mengutarakan, “…Dalam memelihara dan memajukan ilmu, karakterlah yang utama, bukan kecerdasan. Kurang kecerdasan dapat diisi, kurang karakter sukar memenuhinya seperti ternyata dengan berbagai bukti di dalam sejarah. Kecerdasan dapat dicapai dengan jalan studi oleh orang yang mempunyai karakter….”

Di sini, pendidikan karakter mempunyai efek ganda: pembentukan mental kepribadian dan aktualisasi ragam potensi kecerdasan. Pendidikan karakter dapat menanamkan kualitas dan nilai-nilai kebaikan yang akan meneguhkan kepribadian dan mental yang kokoh. Selain itu, pendidikan karakter akan memberikan perhatian terhadap aktualisasi potensi kecerdasan dan kapasitas yang berbeda-beda yang dimiliki oleh setiap manusia. Sehingga dapat dinyatakan bahwa muara utama dari pendidikan karakter adalah membentuk konsep diri yang positif dalam diri peserta didik. Dengan terbentuknya konsep diri yang positif, “orang tersebut akan berani bertanggung jawab atas pendapatnya, dan berani pula menolak pertanggungan jawab tentang sesuatu yang tidak cocok dengan keyakinannya sendiri”, seperti harapan Bung Hatta.

Bung Hatta dan Islam

Jelas sudah, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  yang dicantumkan di awal tulisan ini bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan dan membentuk watak atau karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat. Karakter dan peradaban bangsa yang hendak diwujudkan senantiasa berasal dan digali dari akar budaya atau kebudayaan bangsa tersebut. Nilai-nilai kebudayaan Indonesia menjadi nilai dasar untuk membentuk dan mewujudkan manusia Indonesia yang berkarakter dan berperadaban. Oleh karenanya, menjadi hal yang sangat penting untuk mengetahui konsep serta nilai-nilai dasar kebudayaan yang di atasnya dibangun dan dikembangkan karakter dan peradaban bangsa.

Dalam pandangan Bung Hatta, sebagaimana diutarakan oleh Professor Yamamoto Haruki dalam buku Gelora Menuju Indonesi Baru (2010), kebudayaan memiliki dua aspek yang saling berlainan, yakni sivilisasi dan peradaban. Sivilisasi adalah aspek yang lebih menitikberatkan pada unsur materiil, sedangkan peradaban adalah aspek yang menitikberatkan pada unsur rohaniah. “Kebudayaan atau kultur akan berwujud sivilisasi, manakala tujuan jasmani untuk mencapai kesempurnaan hidup bertitik-berat pada materialisme. Kebudayaan atau kultur akan mewujud peradaban, apabila faktor-faktor adab dan moral, sebagai ciptaan agama besar pengaruhnya. Pada peradaban, pengaruh tujuan rohani lebih besar dalam mencapai kesenangan hidup” (Hatta, 1948). Jadi, dalam pandangan Hatta, aspek kerohanian terutama agama merupakan dasar untuk membangun kebudayaan Indonesia, sekaligus merupakan nilai pokok yang harus dijelmakan dalam kebudayaan. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan rohaniah.

Kebudayaan rohaniah yang bertumpu pada ajaran agama tidak boleh tidak harus senantiasa dipertahankan. Hal ini mutlak bagi Bung Hatta, artinya kebudayaan Indonesia tidak boleh dibentuk sebagai kebudayaan material, melainkan harus berwujud sebagai kebudayaan rohaniah. Agama yang bagi Hatta merupakan dasar dari kebudayaan rohaniah tidak lain adalah agama Islam. Islam dalam pandangan Hatta mampu mengintroduksikan aspek spiritualisme dengan aspek rasionalisme. Introduksi dua aspek inilah yang menjadi pegangan dan sikap dasar bagi kebudayaan Indonesia yang ada dalam benak Hatta. Aspek spiritualisme akan membentuk sikap, moral, adab, dan budi pekerti, sedangkan aspek rasionalisme dapat memacu spirit manusia Indonesia untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Islam merupakan agama yang aktif dan riil (nyata). Islam di samping memberi pegangan untuk berjuang demi kebenaran dan keadilan, juga memberi peluang yang luas bagi perkembangan kecerdasan dan jiwa rasional manusia dengan mendorong orang mencari ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Nilai pokok inilah bagi Hatta telah menghidupkan kembali warisan rohaniah bangsa yang turum temurun sejak dahulu kala. Demikianlah pandangan Bung Hatta, bahwa yang menjadi cita-citanya adalah kebudayaan Indonesia sebagai sebuah kebudayaan rohaniah yang ditulang-punggungi oleh agama Islam.

Sampai sini menjadi gamblang kiranya bahwa Islam sebagai tulang punggung kebudayaan Indonesia yang berwujud kebudayaan rohaniah memuat nilai-nilai dasar untuk membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat. Timbul pertanyaan kritis yang perlu kita renungkan bersama: mampukah pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam, mewujudkan cita-cita dan impian Bung Hatta tersebut di negeri yang kemerdekaannya telah diperjuangkan oleh Bung Hatta, bahkan rela untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka!

| Leave a comment

Menembus Penjuru Langit

Kinjiro Ninomiya adalah anak desa yang miskin, ketika ia berusia 14 tahun Ayahnya meninggal dunia yang disusul Ibunya dua tahun kemudian. Untuk bertahan hidup, setiap pagi buta, Kinjiro Ninomiya selalu berjalan mendaki gunung untuk mencari kayu bakar. Malam hari ia gunakan untuk menganyam selipar (sejenis jerami padi). Kehidupan ‘keras’ yang dijalani Kinjiro tidak mematahkan semangatnya untuk terus belajar; sambil bekerja dia tidak pernah berhenti untuk membaca. Semangat seperti itulah yang menghantarkan Kinjiro menjadi pemimpin Jepang terkemuka abad ke-19.

Kegigihan Kinjiro Ninomiya ini kemudian menjadi inspirasi masyarakat Jepang untuk gigih dan bekerja keras dalam menuntut ilmu. Tak heran jika di setiap sekolah, Pemerintah Jepang mendirikan patung Kinjiro dengan menggendong kayu bakar di punggungnya serta sebuah buku di kedua tangannya.

Tarikh Islam juga mencatat kegigihan ‘Umar ibn Khotthob dalam mencari ilmu. ‘Umar berasal dari keluarga sederhana, setiap hari ia harus menggembalakan kambing dan onta di padang Oase. Kondisi demikian itu tak lantas menjadikan ‘Umar lalai menuntut ilmu. ‘Umar terkenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. Hasilnya, sejarah mencatat ‘Umar sebagai seorang terpelajar yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Padahal pada saat itu, di Makkah hanya ada 17 orang Quraisy yang memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Keimanan , kekayaan, masa depan cemerlang, kedudukan terhormat, kemuliaan dunia dan akhirat akan tercapai jika mampu memiliki dan menguasai ilmu. Suatu negara atau peradaban bangsa hanya akan maju jika dibangun di atas pondasi ilmu yang kokoh. Selain dari itu semua, seperti janji Allah swt dalam KalamNya, bahwa hanya dengan ilmu, kita akan mampu menembus dan memahami apa yang ada di penjuru langit dan bumi.

Ilmu adalah hak milik seluruh umat manusia; tak peduli dia kaya atau miskin, ganteng atau buruk rupa, orang desa atau kota, “darah biru” atau darah merah. Kisah Kinjiro Ninomiya dan ‘Umar ibn Khotthob di atas memberi pelajaran bahwa ilmu dapat diperoleh dengan kerja keras dan harus dicari (didatangi). Mustahil akan memperoleh ilmu tanpa disertai kerja keras, adalah lelucon jika  orang hanya menunggu didatangi ilmu tanpa usaha untuk mencarinya. Yang juga tidak boleh terlupa adalah do’a. Semua ilmu asalnya adalah dari Allah swt, do’a adalah kunci pembuka agar Allah swt melimpahkan ilmuNya kepada kita, manusia; makhlukNya yang istimewa nan utama. Mau?

| Leave a comment

Pahlawan Itu, Kamu!

Pahlawan itu telah tiada; jasadnya telah terurai dan melebur dengan tanah. Namun mereka tetap hidup, di hati dan dan pikiran generasi yang ditinggalkan. Mereka hidup meski badan dan jasadnya sudah hancur lebur. Cita-cita, karya, dan nilai yang mereka wariskan berusia lebih tua dari usia jasmaninya. Mereka tiada namun sejatinya tetap ada; akan senantiasa dikenang untuk kurun seribu tahun lagi. Atau lebih. Mereka tidak seperti untaian sajak Chairil Anwar, sekali berarti sesudah itu mati. Bukan. Mereka tidak seperti itu. Mereka sebaliknya, sekali mati namun karya dan ide-idenya akan terus-menerus memberi arti bagi orang lain.

Pahlawan itu Manusia Besar. Mereka Besar bukan karena fisik; karena mereka berani menantang jaman dengan cita-cita besarnya, karena mereka mampu menjawab tugas besar yang hadir di hadapan mereka dengan karya dan pengorbanannya. Mereka hadir menjadi pelita di tengah gelap zaman. Mereka menjadi penunjuk jalan ke arah terang. Mereka menghadirkan optimisme dan semangat kemajuan serta pencerahan di tengah pekat pesimisme dan kemunduran.

Pahlawan itu orang yang tidak hanya terdidik namun juga tercerahkan; pikiran dan jiwanya. Pikiran yang tercerahkan selalu gelisah melihat kondisi yang tidak baik, tidak ideal. Kegelisahan itu menjadikan mereka selalu terpancing untuk menggali dan memproduksi ide, gagasan, kreativitas, serta karya baru yang brilian. Jiwa yang tercerahkan mengikuti perkataan Sang Tauladan utama, Muhammad saw: sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Karenanya mereka selalu memiliki orientasi dan kepedulian sosial yang tinggi.

Pahlawan itu manusia biasa seperti kita. Yang membedakan adalah; para pahlawan tersebut dapat meraih dan menemukan momentum kepahlawanan diri mereka. Momentum kepahlawan itu muncul saat kemauan, kemampuan, dan kebesaran cita-cita bertemu dengan peluang, kesempatan, dan tantangan zaman. Peluang, kesempatan, dan tantangan zaman itu tidak bisa diciptakan, namuan kemauan, kemampuan, cita-cita, dan karya itu dapat diperjuangkan dan diraih. Karenanya, setiap insan yang lahir, punya peluang yang sama untuk jadi pahlawan. Semua yang bernyawa.

Pahlawan itu, kamu! Kamu kamu kamu! Kamu dengan cita-cita besarmu. Kamu dengan karya brilianmu. Kamu dengan kebesaran jiwa dan pikiranmu. Kamu dengan kepedulian sosial serta pengorbananmu. Kamu dengan segudang prestasimu. Kamu dengan amal sholeh yang dikenang banyak orang. Namun, pertanyaan besarnya: BERANIKAH KAMU MENJADI SEPERTI ITU?

| Leave a comment